Apa beda orang dewasa dan anak-anak?
Tidak banyak. Orang dewasa hanya lebih pandai bersandiwara dibandingkan anak-anak.
Mereka yang tidak pandai bersandiwara akan dicap aneh oleh masyarakat. Sebenarnya, mereka yang aneh hanyalah bertindak dan berkata apa yang ada dibenaknya; mengeluarkan isi hatinya. Apakah salah jika kita tidak suka maka kita katakan tidak suka? Menurut aturan masyarakat, itu salah. Jika kita tidak suka, maka kita harus katakan suka agar tidak menyinggung perasaan orang, dan kalau memang harus jujur, kita harus katakan sehalus-halus mungkin sembari menyembunyikan ketidaksukaan kita. Itu aturan yang ada. Itu namanya “etika”.
Jika anda mau tau kue yang anda masak itu enak atau tidak. Tanyalah ke anak-anak. Mereka jujur apa adanya. Cuma sayangnya, orang tua mereka mungkin tidak akan begitu senang mendengar kata-kata anak-anak itu. Mereka ingin agar anak-anak itu menyembunyikan perasaan mereka kelak kalau ditanyakan lagi. Mereka ingin anak-anak itu bersandiwara.
Dilihat dari salah satu sudut pandang, bersandiwara itu bagus. Sandiwara membuat dunia kita lebih beradab. Cuma saja, beberapa orang terlalu menghayati konsep bersandiwara ini. Bagi mereka, semua adalah sandiwara. Jangan coba-coba menanyakan apakah kue anda enak atau tidak pada mereka. Gosong pun mereka akan bilang enak. Orang-orang ini adalah bangsa-bangsa penjilat di kantor anda.
Bagaimana jika kita menolak bersandiwara?
Di kasus yang baik, anda mungkin hanya dibilang kasar. Kasus terburuk, orang bilang anda tak beradab atau mungkin gila.
Sangking banyaknya orang yang bersandiwara, muncul cabang ilmu untuk hal itu. Mereka menamakannya soft skill, people skill, dan lain-lain. Ratusan buku terbit untuk mengajari kita bersandiwara. Lambat laun masyarakat kita semakin tenggelam di dalamnya. Panggung sandiwara semakin meriah. Sangking meriahnya, saya tak bisa lagi membedakan apakah seseorang sedang bersandiwara kepada saya atau dia benar-benar jujur apa adanya.
Dunia ini memang sudah kacau.Kata pastor saya dulu, kalau semua orang telanjang, maka orang yang pakai baju lah yang merupakan orang gila. Sekarang, semua orang bertopeng. Mereka yang tidak bertopeng, adalah mereka yang aneh. Mau tak mau, saya juga terpaksa mengenakan sebuah topeng di wajah saya. Dan saya sarankan anda juga mengenakannya.
“Mau tak mau, saya juga terpaksa mengenakan sebuah topeng di wajah saya. Dan saya sarankan anda juga mengenakannya.”
Tak semua orang seperti Anda mau mengenakan topeng dan bersifat munafik. Masih banyak orang yang apa adanya di dunia ini. Hanya Anda yang mungkin menutup mata hati Anda untuk melihatnya keluar. Topiknya nggak cocok “Beda Anak Dewasa dan Anak-anak” tapi lebih cocok “Etika dalam berkata”. Tolong Anda bedakan antara dunia munafik dan dunia apa adanya dan tidak semua orang senang dengan panggung sandiwara. Kebanyakan lebih senang dengan orang yang jujur. Coba Anda terawang ke Eropa sana.
Oleh: unknown on September 13, 2009
at 7:16 pm
Terima kasih atas masukannya.
Yah mungkin juga setiap orang punya penafsiran yang berbeda atas apa yang saya tulis. Tapi tidak selamanya bersandiwara itu berarti munafik.
Apakah anda tidak pernah mengatakan sesuatu untuk menyenangkan hati orang yang anda cintai seperti misalnya ketika anda punya masalah pelik di kantor kemudian anda pulang ke rumah seakan2 tidak ada masalah demi menyenangkan anak2 dan istri anda?
Pernahkah anda memuji baju teman anda walaupun anda tau itu tidak pantas di badannya, tetapi karena dia telah beli lantas anda tidak ingin menyakiti hati dia?
Oleh: hardyhuang on September 14, 2009
at 2:59 pm
lebih baek lu ke belajar bersemdi dulu, supaya pikiran lu bisa tenang
Oleh: Alan Luo on September 14, 2009
at 3:29 pm
alan luo.. isi adalah kosong.. kosong adalah isi…
)
Oleh: Yenty Hartanto on September 16, 2009
at 12:38 pm
Hahaha… Lu aja pake topeng alan luo.. Sini2 ikut wa semedi dulu hehe..
Oleh: hardyhuang on September 14, 2009
at 3:45 pm
btw d ditiko am sp??
Oleh: stev on September 14, 2009
at 10:47 pm
kalau tidak ada jawaban jujur maka tidak akan ada perbaikan pada setiap orang. Seorang teman yg baik akan berkata jujur kepada seorang temannya yg lain agar adanya perbaikan sehingga temannya tadi tidak akan dipandang aneh orang lain. Sudut pandangmu terlalu sempit, coba Anda terawang lagi keluar. Jujur dalam berkata bukan berarti kasar tapi penyampaiannya dapat dilakukan sehalus mungkin sehingga tidak menyakiti perasaan orang lain. Jelas berbeda antara panggung sandiwara dan etika berucap.
Kalaupun ada orang yg suka menggunakan topengnya jelaslah manusia seperti itu berbahaya karena tak bisa dijadikan sebagai seorang sahabat karena kita tidak mengenal seperti apa dia sebenarnya, bisa saja karena terlalu sering menggunakan topeng, di depan muka nampak baik tapi di belakang berkata lain (lain di mulut lain di hati). Tipe orang yg suka menggunakan topeng justru dihindari orang lain.
Oleh: unknown on September 15, 2009
at 10:55 pm
Benar sekali yang kamu katakan unknown. Memang orang yang suka menggunakan topeng itu berbahaya, seperti yang saya sudah tuliskan di artikel saya.
“Cuma saja, beberapa orang terlalu menghayati konsep bersandiwara ini. Bagi mereka, semua adalah sandiwara. Jangan coba-coba menanyakan apakah kue anda enak atau tidak pada mereka. Gosong pun mereka akan bilang enak. Orang-orang ini adalah bangsa-bangsa penjilat di kantor anda.”
Cuma yang mau saya tekankan di artikel saya, kita tak bisa menghindari dari yang namanya panggung sandiwara. Kadang2 kita harus memakai topeng, demi kebaikan orang lain. Tidak semua dunia ini putih unknown, dan saya juga menerima bahwa tidak semua dunia ini hitam. Kita sesuaikan dengan kondisi.
Lagipula, tidak selamanya memakai topeng itu harus dalam konteks menjawab pertanyaan secara jujur atau bohong. Kalau kita bicara ttg jujur dan bohong, maka saya akan mendukung kamu unknown. Tapi konteks saya lebih luas dari itu.
Mis:
Seorang perempuan karir yang memakai topeng di kantornya. Di kantor dia bisa menjadi seseorang yang sangat tegas, sangat disiplin dan sangat galak untuk menghadapi anak buahnya. Tapi di rumah dia berubah 180 derajat menjadi orang yang lemah lembut dan baik hati terhadap anak2nya.
Sekali lagi, konteks saya tidak seputar etika berbicara dan bohong/jujur. Tidak selamanya memakai topeng berarti bohong dan munafik.
Terima kasih atas masukkannya.
Oleh: hardyhuang on September 16, 2009
at 10:07 am
menurut saya,
setiap orang hendaknya tau kpn hrs memakai topeng atau tidak, pintar2 melihat kondisi dan melihat siapa yg dihadapi, itu yg disebut bijaksana.
Kita manusia yg dilengkapi indera utk tau kpn org bersandiwara atau tdk, jika menghadapi org yg sdg bersandiwara/bertopeng, dan kita memilih utk jujur dan putih apa adanya, jelas2 itu sebuah kebodohan.
Tapi ketika berhadapan dgn org2 yg dicintai, tentu kita harus bijaksana untuk bersikap terbuka pada org2 tersebut.
Dan perhatikan jg org2 di sktr,
org yg tau kpn dia hrs bertopeng atau tdk,
jelas merupakan org yg plg berhasil dlm dunia sosial dan bisnisnya.
Saran saya hanya : pintar-pintarlah mengenakan dan melepas topeng anda.
@Hardy Huang :
“saya tak bisa lagi membedakan apakah seseorang sedang bersandiwara kepada saya atau dia benar-benar jujur apa adanya.”
hahaha.. benarkah??
stiap org sdh dibekali dgn kemampuan utk sdikit byk mendeteksi apakah org bersandiwara atau tdk, saya percaya anda sndiri org yg handal dlm mendeteksi hal tsb.
Yang perlu dipelajari bkn bagaimana mendeteksi org memakai topeng atau tdk, namun siasat dlm menghadapinya saja..
Oleh: Yenty Hartanto on September 16, 2009
at 12:36 pm
“Bagaimana jika kita menolak bersandiwara?
Di kasus yang baik, anda mungkin hanya dibilang kasar. Kasus terburuk, orang bilang anda tak beradab atau mungkin gila.”
Apa anda tidak salah menulis? Artikelnya kurang jelas hingga pembaca menangkap seolah-olah hidup itu harus terus bersandiwara (tetap memakai topeng) dan tidak dikatakan di situ disesuaikan keadaannya.
“Seorang perempuan karir yang memakai topeng di kantornya. Di kantor dia bisa menjadi seseorang yang sangat tegas, sangat disiplin dan sangat galak untuk menghadapi anak buahnya. Tapi di rumah dia berubah 180 derajat menjadi orang yang lemah lembut dan baik hati terhadap anak2nya.” –> kalau ini namanya kebijaksanaan dalam menghadapi masalah.
Lain konsep etika berbicara (tenggang rasa dalam berbicara), lain lagi konsep bijaksana. Antara etika berbicara atau sikap bijaksana tak sama dengan dunia “panggung sandiwara”.
Panggung sandiwara penuh dengan kemunafikan, kebohongan atau bahkan teman sendiri pun bisa dicelakainya karena dia hanya sembari memakai topeng. Ingat, dunia sandiwara hanyalah tempat bernaung orang-orang berjiwa pecundang dan tempat yg penuh dengan kebohongan. Apa Anda ingin hidup dalam kebohongan seumur hidup Anda? Jadi, apakah Anda masih berkeinginan memakai topeng di dunia ini?
Saran saya tetaplah Anda bijak dalam melihat situasi dan kondisi. Tak setiap masalah harus dihadapi dengan topeng. Kalau terlalu sering menggunakan topeng bisa jadi nanti Anda sendiri yg terjerumus ke dalamnya dan malah mungkin bisa-bisa Anda menjadi seorang penjilat seperti yg Anda katakan sendiri dalam artikel Anda. Jangan pula Anda sendiri yg menyindir penjilat dan menulisnya di blog, malah Anda sendiri pula yg menjadi penjilatnya kelak.
Oleh: unknown on September 16, 2009
at 8:27 pm
“Seorang perempuan karir yang memakai topeng di kantornya. Di kantor dia bisa menjadi seseorang yang sangat tegas, sangat disiplin dan sangat galak untuk menghadapi anak buahnya. Tapi di rumah dia berubah 180 derajat menjadi orang yang lemah lembut dan baik hati terhadap anak2nya.” –> kalau ini namanya kebijaksanaan dalam menghadapi masalah.
Teman. Bijaksana itu berarti bijak dalam mengambil keputusan. Nah dalam kasus ini Ibu itu bijak dalam mengambil keputusan untuk memakai topeng di kantornya. Tolong refer ke KBBI untuk arti kata bijaksana dan sandiwara.
“Panggung sandiwara penuh dengan kemunafikan, kebohongan atau bahkan teman sendiri pun bisa dicelakainya karena dia hanya sembari memakai topeng. Ingat, dunia sandiwara hanyalah tempat bernaung orang-orang berjiwa pecundang dan tempat yg penuh dengan kebohongan. Apa Anda ingin hidup dalam kebohongan seumur hidup Anda? Jadi, apakah Anda masih berkeinginan memakai topeng di dunia ini?”
Saya tidak memandangnya seperti itu. Panggung sandiwara di dunia saya tidak seperti itu. Saya maklum kalau ada berbagai persepsi yang berbeda tentang hal itu. Bahkan seorang shakespeare pun punya persepsi tentang itu yang mungkin berbeda dari kita berdua.
http://id.wikipedia.org/wiki/Dunia_ini_panggung_sandiwara
“Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.”
“Jangan pula Anda sendiri yg menyindir penjilat dan menulisnya di blog, malah Anda sendiri pula yg menjadi penjilatnya kelak.”
Maaf tapi tolong, tidak menyerang ke personal mengenai masalah ini. Kalimat ini sangat kekanakan sekali. Apalagi mengingat anda sendiri memakai topeng unknown dalam diskusi, sedangkan anda sendiri tidak setuju dengan memakai topeng.
Oleh: hardyhuang on September 17, 2009
at 4:28 pm
Unknown :
Daripada capek2 ber ad hominem ria dan karna anda itu orangnya tidak suka memakai topeng atau bersandiwara, kenapa gak kasi kami nama asli anda dan tempat tinggal anda ?
It will be so much better if the discussion is live
Atau mungkin ketemuan di suatu tempat terbuka untuk bicarain soal ini ?
Oleh: bertzzie on September 17, 2009
at 5:17 pm
bertzzie:
Apa setiap orang yg menuliskan komentarnya di blog orang lain harus ketemu muka satu sama lain? Jikalau 100 blog yg saya kunjungi maka 100 orang yg harus saya datangi? Tolong pikir dengan logikamu sendiri. Jangan seenaknya bicara. kalaupun saya berdebat di blog orang, itu untuk melihat seberapa handal orang itu mengerti maknanya. Apa Anda tuan rumah di blog ini? Kalau ada orang di dunia ini tidak suka menerima kritik dan saran orang lain, lebih baik dari awal link untuk komentar dimatikan atau sekalian saja blognya ditutup. Perdebatan dan argumentasi itu wajar.
hardyhuang:
Saya hanya mengingatkan saja dan tidak menuduh Anda dan jujur saja, saya paling benci dengan orang yg bisa menyindir orang lain penjilat tapi orang yg menyindir ini kelak menjadi penjilat juga dan Anda tidak perlu emosi dan mengganggap perdebatan ini sampai ke hati. Jika Anda orang dewasa saya rasa tidak ada masalah. Anggap saja persepsi kita berbeda mengenai diskusi ini.
Oleh: unknown on September 17, 2009
at 10:28 pm
@Unknown
Ini bukan perdebatan lagi. Ini sudah ad hominem, terbukti dengan kata terakhir anda.
“saya paling benci dengan orang yg bisa menyindir orang lain penjilat tapi orang yg menyindir ini kelak menjadi penjilat juga dan Anda tidak perlu emosi dan mengganggap perdebatan ini sampai ke hati. Jika Anda orang dewasa saya rasa tidak ada masalah. Anggap saja persepsi kita berbeda mengenai diskusi ini.”
Anda membawa perasaan benci anda ke perdebatan, itu tidak dewasa sama sekali. Saya awalnya mengira bahwa anda itu tipe orang yang berpikiran dewasa dan mau mencoba berdiskusi secara dewasa. Tapi yang anda lakukan hanyalah lebih banyak menyerang secara personal daripada mempertahankan argumen anda. Terbukti dengan kata2 seperti ini:
“Hanya Anda yang mungkin menutup mata hati Anda untuk melihatnya keluar. ”
“Sudut pandangmu terlalu sempit, coba Anda terawang lagi keluar. ”
dan lain2..
Kalau anda mau berdebat dengan memasukkan unsur benci anda di dalam diskusi, good luck di tempat lain. Tapi bukan di blog saya.
Ini referensi untuk anda sebelum ikut beragumentasi lagi. Belajar dulu berdebat sebelum anda mengatakan “Perdebatan dan argumentasi itu wajar”
http://en.wikipedia.org/wiki/Ad_hominem
Oleh: hardyhuang on September 17, 2009
at 11:39 pm
@Unknown :
saya melihat anda mengutarakan tentang “Etika dalam Berkata” sebelumnya, namun saya rasa anda perlu lebih memahami hal tersebut,
Seorang blogwalker sejati tau bagaimana hrs berdebat dan mempertahankan argumen dgn sopan dan penuh etika.
Terserah jika mmg anda tdk menyukai penjilat, namun saya yakin blogger lain akan menertawakan kalimat2 yg anda lontarkan.
U’re really rude, unknown.
Dan utk referensi tambahan,
coba lihat cara beragumen dan berdebat blogger2 di postingan berikut http://hardyhuang.wordpress.com/2007/07/24/mesin-waktu-dan-paradoks-waktu/
Gud luck!!
Oleh: Yenty Hartanto on September 17, 2009
at 11:59 pm
”
“saya paling benci dengan orang yg bisa menyindir orang lain penjilat tapi orang yg menyindir ini kelak menjadi penjilat juga dan Anda tidak perlu emosi dan mengganggap perdebatan ini sampai ke hati. Jika Anda orang dewasa saya rasa tidak ada masalah. Anggap saja persepsi kita berbeda mengenai diskusi ini.”
Anda membawa perasaan benci anda ke perdebatan, itu tidak dewasa sama sekali. Saya awalnya mengira bahwa anda itu tipe orang yang berpikiran dewasa dan mau mencoba berdiskusi secara dewasa. ”
Lho? Apa Anda merasa sebagai seorang penjilat? Saya menggunakan kata “kelak” yg bukan berarti sekarang Anda begitu. Coba baca kalimatnya baik-baik.
“Hanya Anda yang mungkin menutup mata hati Anda untuk melihatnya keluar. ”
Ini juga ada kata “mungkin”.
“Sudut pandangmu terlalu sempit, coba Anda terawang lagi keluar. ”
Memang betul toh Anda begitu, kalau tidak mengapa Anda seolah-olah harus mengajak orang memakai topeng seperti Anda dan sepertinya salah besar kalau tidak memakai topeng.
Bukannya Anda sendiri yg langsung menuduh yg bukan-bukan di sini. Saya juga nggak bilang benci Anda. Apa perasaan Anda terlalu sensitif pak penulis?
Oleh: unknown on September 18, 2009
at 4:57 pm
yenty hartanto :
ya, memang saya tidak suka yg penjilat. Itu jawaban jujur saya. Lantas apa Anda suka dekat dengan seorang penjilat? Coba jawab dulu secara jujur.
Referensi yg Anda berikan juga dari blog ini. Apa tidak pernah membaca blog lain bu yenty hartanto?
Oleh: unknown on September 18, 2009
at 5:00 pm
Apapun itu unknown, terima kasih atas masukannya. Berkat kamu saya mendapat ilham untuk artikel berikutnya.
Untuk semuanya, debat ini jgn diperpanjang lagi. Saya juga ucapkan terima kasih untuk partisipasi anda semua
Oleh: hardyhuang on September 18, 2009
at 5:27 pm
@unknown :
yg saya bahas bkn saya suka atau tdk pada penjilat, wahai unknown siaucie..
tp anda semakin kasar dan mkin pintar bersilat lidah.. well kurasa mmg begitulah caramu berdiskusi.. semoga negara ini tdk runtuh dgn cara diskusi spt ini di DPR.. ahhaha..
saya bnr2 jd ingin ngakak..
yah sdhlah.. saya hanya membantu utk anda dpt semakin berkembang, dgn mencari referensi yg plg dkt, spy lbh mudah,
sehingga anda dapat menerawang lbh jauh..
well kl itu tak anda hargai, itu tdk mslh sm skali bg saya,
saya jg tak ingin repot2 memberi referensi lain utk seorang 井 底青蛙 , hahaha…
love ur world, live ur world..
Oleh: Yenty Hartanto on September 20, 2009
at 12:47 am