Oleh: hardyhuang | Desember 16, 2008

Seandainya Semua Penduduk Indonesia Di-Rank!

Dulu sewaktu saya masih berseragam putih-merah, putih-biru dan kemudian putih-abu, istilah ranking atau peringkat sudah menjadi istilah yang sangat umum pada saat itu. Pada hari itu, saya dan kawan-kawan saya dinilai secara langsung oleh guru dan orang tua kita masing-masing melalui peringkat kita masing-masing di kelas. Di sekolah saya dulu malahan ada yang namanya peringkat umum, yaitu urutan prestasi saya yang diukur berdasarkan semua siswa yang seangkatan di sekolah tersebut.

Setelah menduduki bangku perkuliahan, yang namanya pengukuran berdasarkan peringkat sudah mulai samar-samar. Walaupun pada hari saya diwisuda, tempat duduk kami sebagai calon wisudawan itu diukur berdasarkan peringkat Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Yang paling tinggi IPK nya duduk paling depan, sedangkan yang paling rendah duduk di deretan bangku paling belakang.

Di saat-saat seperti itulah, kita mengukur kemampuan kita terhadap yang lain. Persoalan jujur atau tidak dalam pencapaian, itu pembahasan tersendiri. Tapi misalkan jika seandainya semua orang itu jujur dalam pencapaiannya. Bagaimana perasaan kita jika kita duduk terdepan? Atau terbelakang? Bangga? Malu? Tertantang untuk lebih maju kelak? Campur aduk pastinya.

Bagaimana jika sekarang juga semua penduduk Indonesia diukur berdasarkan ukuran tertentu yang diakui fair untuk setiap profesi, dikategorikan berdasarkan range umur tertentu dan dipublikasikan peringkat setiap orang secara publik dan berkala tiap tahun? Di posisi manakah kita berada dalam 230 juta penduduk Indonesia? Apakah kita termasuk yang terbaik 20% untuk range umur 20 – 25 tahun? Apakah dengan mengetahui posisi kita bisa menimbulkan sifat ingin bersaing yang semakin kental untuk menjadi lebih baik?

Permasalahan ukuran yang fair untuk setiap profesi juga mempunyai kendala sendiri. Apakah seseorang yang mempunyai uang lebih baik berarti lebih tinggi peringkatnya terhadap yang lebih miskin? Apakah yang kesehatannya lebih baik juga lebih tinggi peringkatnya disbanding yang sering check-up ke Singapore? Jabatan? Catatan kriminal? Kemudian bagaimana mengukur kebahagiaan?

Anggaplah suatu saat ditemukan cara mengukur seseorang. Apakah anda mau menerimanya? Penasaran terhadap kemampuan diri sendiri atau takut menghadapi kenyataan? Tapi yang pasti, jangan bicarakan kesamaan hak azasi atau diskriminasi di sini.

Bayangkan apa yang terjadi ketika seseorang berperingkat 1 ketemu muka dengan seseorang yang berperingkat 230 juta?


Tanggapan

  1. wah….
    jika di rank sperti itu, maka secara natural tingkat persaingan di muka bumi ini akan meningkat tajam, bisa saja terjadi chaos besar-besaran, demi berada di posisi top rank apapun dilakukan.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori