Oleh: hardyhuang | November 17, 2008

Kartu Kredit: Penyelamat atau Penenggelam?

Hari minggu biasanya saya jalan-jalan dengan teman saya ke Sun Plaza atau Medan Fair. Saya sebenarnya bukan pecinta jalan-jalan, cuma kadang-kadang saya merasa saya ini sebenarnya kurang sosialisasi, terlalu gaptek kali, itu sebabnya kalau ada tawaran jalan-jalan dari teman biasanya saya terima dengan senang hati. Kata orang, keberuntungan itu sebenarnya bukan bawaan lahir tapi milik orang yang melakukan banyak kegiatan. Saya setuju pernyataan itu. Makin banyak kegiatan kita maka makin banyak peluang kita.

Rencananya hari ini saya dan teman-teman saya akan melihat film terbaru James Bond di Sun Plaza. Kegiatan tersebut sebenarnya sudah saya rencanakan jauh-jauh hari dengan teman saya. Cuma sayang, karena kesalahan teknis maka beberapa musibah terjadi. Seperti ditolaknya kartu kredit BCA milik teman saya sehingga tawaran buy one get one free jadi batal. Harga tiket melambung menjadi 30 ribu per orang. Tapi tak apalah itu. Dah terlanjur.

Sebelum menonton, kami pergi makan terlebih dahulu di Dome Sun Plaza. Jujur saja, saya ini orangnya agak kritis dalam soal memilih makanan. Selain dari rasa, masalah harga juga menjadi pertimbangan saya. Tapi dengan hadirnya kartu kredit, kita tidak lagi perlu memusingkan price tag dari makanan yang di menu. Tinggal kasih kartu dan tanda tangan, semua selesai. Tak ada hard feeling mengeluarkan segepok uang dari dompet.

Kebetulan beberapa minggu belakangan, teman saya berburu beberapa resto dan café yang memberikan diskon bagi pemilik kartu kredit bank Mega dan HSBC. Tawarannya menggiurkan. Buy one get one free, 40%, 55% dan sebagainya. Hitung-hitung wisata kuliner di dalam kota.

Pada awalnya, saya pikir di Dome juga ada diskon untuk bill-nya bagi pemegang HSBC. Sayang sekali, diskon 15% cuma berlaku untuk pemegang American Express. Karena tak ada diskon, dalam pikiranku, mungkin temanku agak irit makannya. Rupanya dalam 20 menit melayang 200 ribu untuk 3 orang juga. Nasi goreng seharga 54 ribu dan sup asparagus yang sekitar 40-an ribu menjadi santapan siang hari itu.

Temanku berkata dengan santai, “Tagihannya untuk bulan depan kok. Dah lewat tanggal untuk bulan ini.”

Wah, kok malah jadi komsumtif dengan kartu kredit. Jadi beda dengan niat awal buat kartu kredit yang sebenarnya untuk mengejar potongan harga. Saya jadi berpikir dua kali kalau misalnya ditawari buat kartu kredit walaupun dengan iming-iming bebas iuran tahunan.

Memang sih kalau punya kartu itu, kita bisa menikmati resto-resto papan atas dan makanan-makanan yang biasanya di luar dari dompet staf menengah. Tapi setelah ditilik-tilik pengeluaran tiap bulan, angka-angka yang ada malah menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan ketika kita tidak memiliki kartu kredit. Jadi merugikan daripada menguntungkan.

Sekarang, masihkan anda berpikir kartu kredit itu menguntungkan?


Tanggapan

  1. wew.. keknya bkn soal rasa tuh..
    soal chau che, chau cho, vege, hahahhaha =P


Beri tanggapan

Your response:

Kategori