Hari ini adalah hari di mana saya diwisuda dari STMIK-Mikroskil. Bagi saya secara personal, kehidupan mahasiswa saya sudah berakhir ketika saya menyelesaikan sidang akhir skripsi saya, prosesi wisuda hanyalah sebuah formalitas di mata saya dan tidak banyak attensi yang saya berikan pada hari itu. Walaupun begitu, ada satu acara yang lumayan menarik untuk disimak yaitu acara motivasi oleh Mr James Gwee. Ini yang kesekian harinya saya mendengar Mr James berbicara di depan panggung. Kali ini tema yang diusung oleh Mr James adalah hidup setelah kuliah.
Ada beberapa poin yang cukup menarik perhatian saya ketika dia berbicara, walaupun ada juga beberapa poin yang saya kurang setuju dari Mr James, yaitu: nilai keunggulan kompetitif di masyarakat dari ijasah kita hanya berlaku 18 bulan setelah wisuda. 18 bulan terlalu lama menurut saya.
Menurut saya di dunia ilmu komputer, nilai keunggulan kompetitif kita sebagai seorang S.Kom paling banter bertahan 3 bulan setelah kita lulus apabila kita tidak terus memperbarui ilmu kita. Itu kalau kita beruntung. Mungkin saja ilmu kita using jauh sebelum kita wisuda. Tapi saya tidak akan membahas soal ini lebih lanjut. Saya serahkan masalah itu ke pengalaman masing-masing.
Satu hal yang sangat saya setuju dari Mr James yaitu pernyataannya mengenai hidup adalah sebuah perlombaan maraton. Berbeda dengan perlombaan sprint, di maraton kita tidak bisa melihat garis finish ketika kita start dan yang paling membedakan maraton dan sprint adalah di sprint kita tidak usah mengatur strategi lagi. Yang penting kerahkan kekuatan kita dengan sepenuhnya dan berlari lurus ke depan. Soal kita menang atau tidak, itu nanti setelah kita mencapai garis finish. Yang penting lari dengan sekencang-kencangnya. Itulah sprint.
Maraton berbeda. Kita harus mengatur nafas, tenaga dan konsentrasi yang tinggi. Jangan terlalu cepat menghabiskan tenaga dan jangan pula terlalu santai. Garis finish masih sangat panjang. Terlalu riskan untuk mengeluarkan semua tenaga kita di awal perlombaan, karena kalau tidak bisa-bisa kita jatuh sebelum mencapai garis finish.
Nah. Jika dilihat-lihat maka saya bisa bilang bahwa hidup itu sebenarnya adalah perlombaan maraton yang sangat panjang. Diperlukan strategi dan stamina. Apa yang saya capai, ijasah strata 1, hanyalah salah satu pos yang ada di jalur maraton. Ini bukan akhir dan bukan juga awal. Saya masih berlari.
Rahasia memenangkan perlombaan maraton adalah penyusunan strategi yang memadai. Saya bisa bilang hal yang sama juga untuk hidup kita. Jika terlalu dipaksa, kita bisa silap dan jatuh. Jika terlalu santai, kita tertinggal. Intinya adalah pengaturan ritme hidup. Ritme ini berbeda untuk setiap orang dan tergantung dengan situasi dan kondisi hidup masing-masing.
Mungkin jika ada perbedaan antara hidup dan maraton sesungguhnya maka itu adalah: Sesama pelari menempuh lintasan yang berbeda. Di hidup tidak ada yang namanya lintasan tetap untuk setiap pelari. Kita bebas menempuh lintasan masing-masing, tapi garis finish tetap hanya satu yaitu: Membuat hidup ini berarti.
Hal yang paling menyedihkan mungkin adalah pelari yang tidak menyadari bahwa ia sedang berlari. Pelari yang melihat garis finish semu dan mulai menghentikan langkahnya akan benar-benar ditenggelamkan oleh ritme kehidupan. Pada saat dia sadar, dia sudah tertinggal jauh dari yang lain. Contoh kasusnya adalah pemuda yang berfoya-foya dan bersenang-senang pada masa muda. Saat mereka tidak berusaha maka itulah saat mereka berhenti berlari. Pada saat mereka sadar, mungkin umur mereka telah 30-an dan belum berkarya apa-apa, jauh tertinggal dari yang lain.
hmmmm….
menarik sekali…
andai bs denger petuahnya lgsg… huhu….
“Hal yang paling menyedihkan mungkin adalah pelari yang tidak menyadari bahwa ia sedang berlari” >> dan mulai lengah… dan terseret arus hidup yg tdk jelas.. whahahahaha gawat2
quote dr master : “ketika kita mulai memaafkan diri sendiri, saat itulah kita mulai lengah”
Oleh: yenty hartanto on Nopember 16, 2008
at 7:55 pm
salah satu capres yg saya haramkan mengatakan “hidup adalah perbuatan”, saya setuju,ya, tanpa berbuat,itu namanya orang matii.
berbuat untuk diri sendiri ataupun orang lain.
kelau semua orang didunia digambarkan / dimisalkan di kehidupannya berlari, dan seandainya ada yang terjatuh dilintasan dan merasa butuh pertolongan.
apakah kita masih bisa berlari?
sejatinya berlari adalah bagaimana kita bisa mencapai finish dan masa bodoh dengan apa yang terjadi dengan rival kita.
memang sulit jika marathon disamakan dengan kehudupan. dan memang arti dari hidup sangat banyak.
terserah kita memilih arti kehidupan yang mana kita pilih.
Oleh: Demson Sihaloho on Februari 13, 2009
at 3:07 pm