Tak terasa telah lewat 1 bulan penantian untuk pergi ke Pulau Penang, akhirnya hari itu datang jua. Saya berangkat ke Penang dengan menggunakan pesawat Air Asia. Lirik-lirik bentar ke tiket pesawat, harga tiket mencapai Rp 490.000,-. “Mahal juga ternyata..,” begitu pikiran saya waktu itu. Memang harga flight sebenarnya cuma Rp. 159.999,-, tapi dibalik itu ada harga Fuel Subcharge senilai Rp. 180.000,- ditambah harga Administration Fee Rp 70.000,- lagi. Wah ini sih permainan marketing. Di bandara internasional polonia, ketika masuk saya dihampiri seseorang dengan baju agak lusuh. “Naik pesawat Air Asia?” Begitu tandas orang tak dikenal (OTK) ini yang kemudian saya baru tau kalu ini orang mencari nafkah untuk membantu orang mengurus masalah administrasi di sana. Ya karena ini penerbangan internasional saya yang pertama kalinya, saya relakan lah Rp 20.000,- untuk dia, walaupun setelah lewat beberapa saat saya lihat ternyata orang hanya bayar Rp 10.000,- aja. Walah terlambat tuh. Jadi rugi Rp10.000,- saya. Padahal Penang aja belum diinjak, dah ditipu orang Indonesia pula. Parah juga saya. Tapi sudahlah. Pengalaman.
Belum cukup saya ditipu dengan uang, saya mau diperas pula oleh OTK itu. Katanya saya tidak punya tiket pulang dan ditambah saya pertama kali terbang, pihak imigrasi tidak akan mengizinkan gua terbang. Sedikit tidak percaya saya. Saya bilang padanya, kamu urus dulu semuanya. Sewaktu dia sedang menimbang koper. Ternyata koperku lewat dari 15 Kg. Kalau tidak salah, 17.4 Kg. Oleh orangnya dihitung 18 Kg. Untuk setiap kelebihan 1 Kg, saya hendak di-charge seharga Rp 45.000,-. Walamak, 3 Kg berarti Rp 135.000,-. Gila! Penang belum injak dah mesti keluar gitu banyak uang! Saya angkat koper saya ke sekitar tempat duduk di polonia. Di sana saya keluarkan buku Introduction to Algorithm dan satu kotak minuman pati ayam kemudian ditimbang ulang. Jarum timbangan menunjukkan 14.7 Kg. Selamat lah saya.Barang yang kukeluarkan kumasukkan ke dalam plastik yang kemudian kujinjing ke tempat Imigrasi. Di sana, hati agak deg-deg an. Tapi nyata, ga ada apa-apanya toh. Orang imigrasi cuma nanya ke penang ngapain yang dijawab oleh saya “Tugas Belajar”. Cap. Lewat. Sialan juga tuh OTK. Nakutin orang.
Ketika di raung tunggu, Saya sms dulu kepada dua orang yaitu Mr P dan Mr S minta doakan gua. Pesawat Air Asia yang mengklaim selalu on time memang nyatanya datang on time. Tapi ternyata setelah duduk di pesawat, saya tunggu-tunggu setelah 35 menit. Kok tidak terbang? Suara pramugari yang menggoda akhirnya mengumumkan lewat pengeras suara. “Pesawat akan mengisi bahan bakar selama 15 menit. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya,” begitu sahut pramugari tersebut. Gugur deh predikat on timenya di benak saya.
Sampai di Penang jam 6 an. Tunggu bagasi. Keluar ketemu Mr R ternyata sudah jam 6 lewat 20 menit. Ketika Mr R di mobil, beliau telepon Mr P. Pertama-tama telepon dia pura-pura bilang saya tidak ada di airport. Suara Mr P yang terkejut kedengaran di HP Mr R. Suer. Ini bukan ide saya. Saya bahkan tidak ketawa, cuma menaikkan ujung bibir sedikit waktu itu. Untungnya Mr R, cuma bercanda sebentar saja. Kalau tidak bisa heboh Mikroskil. Ntar saya dianggap tidak terbang pula ke Penang.
Oleh Mr R, saya ditawari untuk menginap di rumahnya bareng semalam. Yah, karena dia yang bawa mobil. Tidak etis saya menolak. Oke lah. Berangkatlah kita berdua ke rumahnya (apartemennya). Di sana saya ketemu dengan istri dan anak kedua dari Mr R. Kedua-duanya sangat ramah. Saya diberikan ruangan untuk menginap semalam (saya tebak sih ruangan anak keduanya karena ada fotonya). Selang beberapa saat, anak pertamanya pulang dengan Mr F yang merupakan mahasiswa Phd yang juga merupakan orang Indonesia. Kenalan sebentar dengannya. Dari wajahnya, biasa-biasa saja (saya baru tahu di hari kedua kalau dia programmer Java yang paling tangguh di lab dan telah menerbitkan kurang lebih 16 paper Internasional). Setelah perkenalan selesai. Pak Rahmat berbaik hati membawa saya jalan-jalan untuk membeli kartu SIM Digi. Susah kali bicaranya dengan tukang jualnya. Dia bahasa hokkien campur melayu campur Inggris pula. Bingung gua. Tapi setelah 15 menit bicara panjang lebar tentang cara ngisi pulsa di Penang baru kelar jual belinya hehe…
Sepulangnya ke apartemen Mr R. Saya langsung tulis jurnal sebentar, susun barang dan beberapa aktifitas normal lainnya baru tidur. Besok apa lagi yang akan kutemui.
Begitu tandas orang tak dikenal (OTK) ini yang kemudian saya baru tau kalu ini orang mencari nafkah untuk membantu orang mengurus masalah administrasi di sana. *Pekerja Calo namanya klo gak salah.*
Oleh: Philip on September 5, 2008
at 9:32 am
wkwkwkwk….
emk org indo parah..
mana ada tuh g bole terbang gr2 blom pny tiket plg. haha
eh, kok mahal amat air asia? 45rb/kg?
biasa limit jg 25kg bukan 15kg, dan biasa jg nambah 15rb/kg aj,
ahh,, tak iya jg air asia ini.. hehe
anaknya Mr R da Phd? y ampun.. kerennya..
Oleh: yenty on September 6, 2008
at 9:52 am
harga tiket pesawat sekarang kok mahal semuanya….
terutama jurusan medan-pekanbaru…
seharusnya kan lebih murah… karena satu pulau.. dan bisa dilalui naik motor…
gak masuk akal harga tiketnya mahal semua…
padahal minyak turun… dan pelayanannya aja gak bagus bagus amat pun… sering delay, terlambatlah, mesin rusaklah, baut lepas lah…. padahal kalo terjadi seperti itu, mereka gak mau ganti lerugian kita…
jadi tolong dong harga tiketnya dipertimbangkan lagi….
kalo mahal terus mendingan naik bus aja… atau naik mobil pribadi…
dan gak akan ada yang mau naik pesawat lagi…
Oleh: Ricky on Desember 21, 2008
at 12:30 pm