Oleh: hardyhuang | Oktober 23, 2007

Vitalitas Bukan Milik Wartawan Saja!

Saya baru saja mendapat buku vademekum wartawan dari mas Jallaludin Smart FM. Salah satu pembahasan utama yang diangkat oleh buku tersebut adalah mengenai apa yang dibutuhkan oleh seorang wartawan untuk menjadi handal. Di sana tertulis, bukanlah kecerdasan atau pun rasa ingin tahu yang teramat besar yang bisa membuat seseorang wartawan menjadi profesional melainkan satu buah hal kecil yang sering dilewatkan seseorang yaitu vitalitas. Yah! Vitalitas yang hampir tidak pernah lagi disebut – sebut di tengah masyarakat yang sedang heboh – hebohnya training personal improvement.

Beberapa seminar personal improvement yang pernah saya ikuti. Kebanyakan menekankan pada attitude dan impian, well beberapa mungkin ada menyebutkan tentang knowledge dan sharpness. Tapi sampai hari ini belum ada loh yang menyinggung – nyinggung tentang vitalitas.

Padahal, jelas bukan hanya profesi wartawan saja yang memerlukan vitalitas tinggi. Seorang office boy pun memerlukan vitalitas tinggi. Sharpness dan knowledge tidak ada gunanya jika kita menyerah di tengah perjalanan. Istilah “panas – panas taik ayam” bukan lagi hal yang baru di dunia perkantoran. Seseorang bisa saja mengusulkan sebuah ide yang sangat luar biasa tapi ternyata tak sanggup untuk melaksanakannya. Ini bukan masalah lagi, tapi musibah. Pekerjaan yang setengah – setengah jauh lebih membahayakan perusahaan daripada tidak ada pekerjaan. Wong, siapa yang mau tanggung waktu dan biaya yang telah dihabiskan dalam setengah perjalanan itu?

Memang, sama halnya dengan attitude. Vitalitas tidak bisa kita dapatkan dengan hanya niat dan tekad keras. Tapi harus disertai dengan aksi nyata sehingga aksi yang berulang – ulang itu nantinya akan menjadi behaviour kita serta tubuh dan badan yang sehat juga akan sangat mendukung kita dalam mempertahankan vitalitas dalam pekerjaan kita.

Hardy Huang


Tanggapan

  1. Setuju juga nih dengan pendapat Anda. Saya baru tahu kalo vitalitas itu berhubungan dengan ketahanan fisik dan mental dalam menjalankan pekerjaan. Memang tak mudah menghadapi tantangan di dunia kerja apalagi tidak didukung dengan ketahanan mental dan fisik tadi. Pertanyaan saya cuma satu, “Apakah dengan adanya vitalitas yg baik bisa mengatasi depresi dalam setiap pekerjaan? atau adakah hubungan timbal balik??”, karena seperti kita ketahui setiap insan manusia tidak hanya dihadapkan dengan masalah perkantoran tapi juga masalah lainnya.

    Btw bukunya dapat dari mas Jallaludin dalam bentuk buku teks atau ebook ya?? ^^

  2. Bukankah justru penyebab utama seseorang menyerah dalam pekerjaan bukan karena fisiknya yang tidak sanggup tapi mentalnya yang tidak lagi mampu menahan berbagai permasalahan yang bertubi-tubi datang. Nah disinilah vitalitas berperan penting dan ingat untuk selalu berkepala dingin dalam menghadapi permasalahn. Depresi itu datang bukan karena orang lain, tapi justru kita yang memunculkannya sendiri.
    BTW bukunya dalam bentuk buku teks nih.

  3. Setuju, hanya saja Depresi bukanlah sebuah cara pemikiran, atau pekerjaan. Namun merupakah sesuatu efek samping/tekanan dari yang kita kerjakan. Jadi jika anda tidak ingin Depresi ya jangan kerjakan, atau mungkin jangan terlalu banyak pikirikan *seperti kata Pak Gusdur kali ya ?.

    Disisi lain, tidak ada pekerjaan ataupun kehidupan ini yang tidak ada depresinya. karena ketika hidup pun tekanan itu akan ada sendirinya.

    ^^

  4. Ah lupa, jadi Depresi itu ada karena adanya diri kita.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori