Oleh: hardyhuang | Januari 8, 2009

Why Go to University?

Entering university is a part of a crucial development in a youngster’s life. It gives not only knowledge, but also the chance of living as an independent people for the first time in their life since most of youngsters are entering universities that are located far away from their home. I strongly believe that everyone should enter university. The following paragraphs should go through the advantages of entering university.

First, the knowledge that we will get after has successfully finished our study in university is indispensable in era of great competition for jobs. The knowledge serves not only as the fundamental of solving problems, but also gives us deep understanding of how the society works. The knowledge we would have gain from university, added with the experience we will later gain after graduation, will put us as distinctive people from those who did not attend university.

Second, the life that we lived during our time of studying in university will provide us experiences of its own. Meeting new people, an independent life, learning to think systematically and many more, will prepare us for later on in the society. Some people also said that during that time, the chances of meeting person that has the same interests with us are very big, since most of the people we will meet in that time are also taking the same course as us in the university. That is why some large companies often have founders who were colleagues back then, during university life.

Lastly, the degree that we will get from university is sometimes the determiner of our success in applying job nowadays. As the competition intensifies everyday, companies need some ways to filter out people who do not pass their basic requirement. An undergraduate degree has become the de facto standard of basic requirement in every job advertisements.

As for my last words, I want to say that the chance of entering university is perhaps a longing for people who do not have financial support or other circumstances that prevent them from entering university. If we do have that chance, let us not waste it and do the best so that we can obtain a brighter future.

Oleh: hardyhuang | Desember 16, 2008

Seandainya Semua Penduduk Indonesia Di-Rank!

Dulu sewaktu saya masih berseragam putih-merah, putih-biru dan kemudian putih-abu, istilah ranking atau peringkat sudah menjadi istilah yang sangat umum pada saat itu. Pada hari itu, saya dan kawan-kawan saya dinilai secara langsung oleh guru dan orang tua kita masing-masing melalui peringkat kita masing-masing di kelas. Di sekolah saya dulu malahan ada yang namanya peringkat umum, yaitu urutan prestasi saya yang diukur berdasarkan semua siswa yang seangkatan di sekolah tersebut.

Setelah menduduki bangku perkuliahan, yang namanya pengukuran berdasarkan peringkat sudah mulai samar-samar. Walaupun pada hari saya diwisuda, tempat duduk kami sebagai calon wisudawan itu diukur berdasarkan peringkat Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Yang paling tinggi IPK nya duduk paling depan, sedangkan yang paling rendah duduk di deretan bangku paling belakang.

Di saat-saat seperti itulah, kita mengukur kemampuan kita terhadap yang lain. Persoalan jujur atau tidak dalam pencapaian, itu pembahasan tersendiri. Tapi misalkan jika seandainya semua orang itu jujur dalam pencapaiannya. Bagaimana perasaan kita jika kita duduk terdepan? Atau terbelakang? Bangga? Malu? Tertantang untuk lebih maju kelak? Campur aduk pastinya.

Bagaimana jika sekarang juga semua penduduk Indonesia diukur berdasarkan ukuran tertentu yang diakui fair untuk setiap profesi, dikategorikan berdasarkan range umur tertentu dan dipublikasikan peringkat setiap orang secara publik dan berkala tiap tahun? Di posisi manakah kita berada dalam 230 juta penduduk Indonesia? Apakah kita termasuk yang terbaik 20% untuk range umur 20 – 25 tahun? Apakah dengan mengetahui posisi kita bisa menimbulkan sifat ingin bersaing yang semakin kental untuk menjadi lebih baik?

Permasalahan ukuran yang fair untuk setiap profesi juga mempunyai kendala sendiri. Apakah seseorang yang mempunyai uang lebih baik berarti lebih tinggi peringkatnya terhadap yang lebih miskin? Apakah yang kesehatannya lebih baik juga lebih tinggi peringkatnya disbanding yang sering check-up ke Singapore? Jabatan? Catatan kriminal? Kemudian bagaimana mengukur kebahagiaan?

Anggaplah suatu saat ditemukan cara mengukur seseorang. Apakah anda mau menerimanya? Penasaran terhadap kemampuan diri sendiri atau takut menghadapi kenyataan? Tapi yang pasti, jangan bicarakan kesamaan hak azasi atau diskriminasi di sini.

Bayangkan apa yang terjadi ketika seseorang berperingkat 1 ketemu muka dengan seseorang yang berperingkat 230 juta?

Oleh: hardyhuang | Desember 12, 2008

About Trust

I concede that I am neither a saint nor an incorrigible liar, I am between them. But then, I do have a strong belief that when a relationship is built upon a complete lie, that relationship is destined for a failure. Trust is the very foundation of relationship, without it there is no foundation. When trust is betrayed, it is time for a complete rethink of the relationship.

A lot of people, including myself when I was a teenager back then, do not know the importance of a trust. But when their trust have been betrayed by other people, only then did they learned to value a trust. It is sort of like karma. When we betrayed someone trust, someday, our trust will also be betrayed by other people.

Statements above arouse a new question in my mind. Is it necessary for us to be betrayed in order to value trust? I believe, most of you, including myself, will quickly answers “no” to that question. But sadly, it happens all the time in reality. People with good integrity become rarer and rarer as time goes.

The same thing happened to a country with a high corruption level where politicians, bureaucrats and businessmen play with people money, people trust.

I always keep in my mind that if I betrays someone trust, someday, sometimes in the future, other will betray my trust. I have tasted the bitter of betrayal, I know the pain of being betrayed.

For people who in my past have been betrayed, if you read my post. Please know that I was a naïve back then. I was wrong. Forgive me.

For people who have betrayed me. I forgive you. But remember, I am not a Buddha.

Oleh: hardyhuang | Nopember 20, 2008

Sepuluh Penyebab Kejatuhan Amerika Dalam Finansial

Saya menemukan sebuah website yang sangat bagus dalam merangkum kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh pelaku ekonomi Amerika. Sangat bagus untuk belajar mengenai ekonomi dan yang terpenting untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.

Websitenya bisa diakses di sini

Oleh: hardyhuang | Nopember 17, 2008

Kartu Kredit: Penyelamat atau Penenggelam?

Hari minggu biasanya saya jalan-jalan dengan teman saya ke Sun Plaza atau Medan Fair. Saya sebenarnya bukan pecinta jalan-jalan, cuma kadang-kadang saya merasa saya ini sebenarnya kurang sosialisasi, terlalu gaptek kali, itu sebabnya kalau ada tawaran jalan-jalan dari teman biasanya saya terima dengan senang hati. Kata orang, keberuntungan itu sebenarnya bukan bawaan lahir tapi milik orang yang melakukan banyak kegiatan. Saya setuju pernyataan itu. Makin banyak kegiatan kita maka makin banyak peluang kita.

Rencananya hari ini saya dan teman-teman saya akan melihat film terbaru James Bond di Sun Plaza. Kegiatan tersebut sebenarnya sudah saya rencanakan jauh-jauh hari dengan teman saya. Cuma sayang, karena kesalahan teknis maka beberapa musibah terjadi. Seperti ditolaknya kartu kredit BCA milik teman saya sehingga tawaran buy one get one free jadi batal. Harga tiket melambung menjadi 30 ribu per orang. Tapi tak apalah itu. Dah terlanjur.

Sebelum menonton, kami pergi makan terlebih dahulu di Dome Sun Plaza. Jujur saja, saya ini orangnya agak kritis dalam soal memilih makanan. Selain dari rasa, masalah harga juga menjadi pertimbangan saya. Tapi dengan hadirnya kartu kredit, kita tidak lagi perlu memusingkan price tag dari makanan yang di menu. Tinggal kasih kartu dan tanda tangan, semua selesai. Tak ada hard feeling mengeluarkan segepok uang dari dompet.

Kebetulan beberapa minggu belakangan, teman saya berburu beberapa resto dan café yang memberikan diskon bagi pemilik kartu kredit bank Mega dan HSBC. Tawarannya menggiurkan. Buy one get one free, 40%, 55% dan sebagainya. Hitung-hitung wisata kuliner di dalam kota.

Pada awalnya, saya pikir di Dome juga ada diskon untuk bill-nya bagi pemegang HSBC. Sayang sekali, diskon 15% cuma berlaku untuk pemegang American Express. Karena tak ada diskon, dalam pikiranku, mungkin temanku agak irit makannya. Rupanya dalam 20 menit melayang 200 ribu untuk 3 orang juga. Nasi goreng seharga 54 ribu dan sup asparagus yang sekitar 40-an ribu menjadi santapan siang hari itu.

Temanku berkata dengan santai, “Tagihannya untuk bulan depan kok. Dah lewat tanggal untuk bulan ini.”

Wah, kok malah jadi komsumtif dengan kartu kredit. Jadi beda dengan niat awal buat kartu kredit yang sebenarnya untuk mengejar potongan harga. Saya jadi berpikir dua kali kalau misalnya ditawari buat kartu kredit walaupun dengan iming-iming bebas iuran tahunan.

Memang sih kalau punya kartu itu, kita bisa menikmati resto-resto papan atas dan makanan-makanan yang biasanya di luar dari dompet staf menengah. Tapi setelah ditilik-tilik pengeluaran tiap bulan, angka-angka yang ada malah menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan ketika kita tidak memiliki kartu kredit. Jadi merugikan daripada menguntungkan.

Sekarang, masihkan anda berpikir kartu kredit itu menguntungkan?

Oleh: hardyhuang | Nopember 15, 2008

Hidup Adalah Maraton

Hari ini adalah hari di mana saya diwisuda dari STMIK-Mikroskil. Bagi saya secara personal, kehidupan mahasiswa saya sudah berakhir ketika saya menyelesaikan sidang akhir skripsi saya, prosesi wisuda hanyalah sebuah formalitas di mata saya dan tidak banyak attensi yang saya berikan pada hari itu. Walaupun begitu, ada satu acara yang lumayan menarik untuk disimak yaitu acara motivasi oleh Mr James Gwee. Ini yang kesekian harinya saya mendengar Mr James berbicara di depan panggung. Kali ini tema yang diusung oleh Mr James adalah hidup setelah kuliah.

Ada beberapa poin yang cukup menarik perhatian saya ketika dia berbicara, walaupun ada juga beberapa poin yang saya kurang setuju dari Mr James, yaitu: nilai keunggulan kompetitif di masyarakat dari ijasah kita hanya berlaku 18 bulan setelah wisuda. 18 bulan terlalu lama menurut saya.

Menurut saya di dunia ilmu komputer, nilai keunggulan kompetitif kita sebagai seorang S.Kom paling banter bertahan 3 bulan setelah kita lulus apabila kita tidak terus memperbarui ilmu kita. Itu kalau kita beruntung. Mungkin saja ilmu kita using jauh sebelum kita wisuda. Tapi saya tidak akan membahas soal ini lebih lanjut. Saya serahkan masalah itu ke pengalaman masing-masing.

Satu hal yang sangat saya setuju dari Mr James yaitu pernyataannya mengenai hidup adalah sebuah perlombaan maraton. Berbeda dengan perlombaan sprint, di maraton kita tidak bisa melihat garis finish ketika kita start dan yang paling membedakan maraton dan sprint adalah di sprint kita tidak usah mengatur strategi lagi. Yang penting kerahkan kekuatan kita dengan sepenuhnya dan berlari lurus ke depan. Soal kita menang atau tidak, itu nanti setelah kita mencapai garis finish. Yang penting lari dengan sekencang-kencangnya. Itulah sprint.

Maraton berbeda. Kita harus mengatur nafas, tenaga dan konsentrasi yang tinggi. Jangan terlalu cepat menghabiskan tenaga dan jangan pula terlalu santai. Garis finish masih sangat panjang. Terlalu riskan untuk mengeluarkan semua tenaga kita di awal perlombaan, karena kalau tidak bisa-bisa kita jatuh sebelum mencapai garis finish.

Nah. Jika dilihat-lihat maka saya bisa bilang bahwa hidup itu sebenarnya adalah perlombaan maraton yang sangat panjang. Diperlukan strategi dan stamina. Apa yang saya capai, ijasah strata 1, hanyalah salah satu pos yang ada di jalur maraton. Ini bukan akhir dan bukan juga awal. Saya masih berlari.

Rahasia memenangkan perlombaan maraton adalah penyusunan strategi yang memadai. Saya bisa bilang hal yang sama juga untuk hidup kita. Jika terlalu dipaksa, kita bisa silap dan jatuh. Jika terlalu santai, kita tertinggal. Intinya adalah pengaturan ritme hidup. Ritme ini berbeda untuk setiap orang dan tergantung dengan situasi dan kondisi hidup masing-masing.

Mungkin jika ada perbedaan antara hidup dan maraton sesungguhnya maka itu adalah: Sesama pelari menempuh lintasan yang berbeda. Di hidup tidak ada yang namanya lintasan tetap untuk setiap pelari. Kita bebas menempuh lintasan masing-masing, tapi garis finish tetap hanya satu yaitu: Membuat hidup ini berarti.

Hal yang paling menyedihkan mungkin adalah pelari yang tidak menyadari bahwa ia sedang berlari. Pelari yang melihat garis finish semu dan mulai menghentikan langkahnya akan benar-benar ditenggelamkan oleh ritme kehidupan. Pada saat dia sadar, dia sudah tertinggal jauh dari yang lain. Contoh kasusnya adalah pemuda yang berfoya-foya dan bersenang-senang pada masa muda. Saat mereka tidak berusaha maka itulah saat mereka berhenti berlari. Pada saat mereka sadar, mungkin umur mereka telah 30-an dan belum berkarya apa-apa, jauh tertinggal dari yang lain.

Oleh: hardyhuang | Nopember 13, 2008

Kaizen

Kaizen merupakan bahasa Jepang yang artinya perbaikan berkesinambungan. Kaizen terdiri dari dua buah huruf yaitu ‘kai’ yang berarti berubah dan ‘zen’ yang berarti baik. Gabungan dua huruf tersebut memberi makna perubahan yang menuju ke sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Kata kaizen pertama saya dapat dari buku Toyota Way, buku yang bagus, karya Jeffrey K. Liker.

Perbaikan berkesinambungan, dua kata yang membuat saya berpikir keras mengenai apakah saya sendiri selama ini sudah melakukan perbaikan atau hanya jalan di tempat saja. Dalam perusahaan Toyota, menurut Jeffrey, orang Jepang mencoba memperbaiki peforma mereka setiap hari walaupun itu hanyalah penambahan efisiensi beberapa detik saja. Berapa detik yang telah saya buang dalam masa muda saya? Hati agak gundah ketika saya bertanya diri saya sendiri pertanyaan tersebut. Tapi inti dari kaizen bukanlah berapa yang telah kita sia-siakan tetapi berapa yang bisa kita perbaiki pada hari esok.

Memulai hari esok dengan skipping 20x mungkin dianggap sepele oleh banyak orang. Tapi itu sebenarnya adalah perbaikan kesehatan yang paling bagus untuk jantung kita. Sedikit memang tapi bermanfaat kedepannya. Menaruh barang di tempatnya setiap kali selesai menggunakan merupakan perbaikan effisiensi dan rasa tanggung jawab yang ada pada diri kita. Kaizen tidak berarti harus perombakan total dalam hidup. Sedikit-sedikit juga jadi asal konsisten. Itulah inti kaizen.

Saya ada perkenalkan kata kaizen pada teman-teman sekantor saya. Rata-rata memberi anggukkan positif pada saat mendengarnya. Saya bahagia mereka bisa menerimanya secara positif, tapi akan lebih bahagia lagi kalau itu diterapkan, yang mana saya percaya mereka bisa, dalam kehidupan sehari-hari mereka. Saya juga akan berusaha untuk menerapkan inti kaizen ini untuk hari-hari esok.

Oleh: hardyhuang | Oktober 26, 2008

I’m Back!

Setelah sekian lama saya sibuk menyelesaikan tugas akhir saya akhirnya saya punya waktu luang juga. Blog ini juga sudah terlantar untuk beberapa waktu dan beberapa komentar tidak sempat saya balas.

Gomeng…

Dengan adanya waktu luang, saya akan mulai lebih disiplin dalam mengisi blog ini minimal 1 minggu sekali. Sudah lama saya tidak menulis dan rasanya sekarang kalau nulis sesuatu agak-agak bingung sedikit. I’m losing the touch. Takkan kubiarkan hal ini berlarut lama. Must write something !

Oleh: hardyhuang | April 22, 2008

120 Days in Penang: Day Two

Hari ini saya dengan 6 orang anak lab makan nasi Kanda. Ini pertama kalinya saya makan nasi Kanda yang konon katanya salah satu makanan khas Malaysia tetapi campuran bumbunya cukup membuat hati saya berdebar. Takut jatuh sakit pula di Malaysia.Hehe…. Tapi saya coba juga pada akhirnya. Tentunya setelah itu saya minum air putih banyak-banyak loh. Sangking banyaknya kurasa orang di lab pada bingung lihat saya pulang balik toilet beberapa kali.

Walaupun hari ini agak ruwet dalam memilih penginapan. Tapi untung semuanya berjalan lancar. Pertama-tama saya dan Ms L pergi ke salah satu asrama di universiti. Di tempat administrasi saya dapat kunci pintu, akan tetapi nasib memang, kunci dari pintu kamar tersebut ternyata tidak bisa digunakan. Ms L tidak byaisa masuk ke dalam gedung karena perempuan dilarang di sana. Balik saya ke tempat administrasi dikasihnya pintu ruangan nomor 24. Pergilah saya ke ruangan nomor 24 (setelah susah payah karena tempatnya seperti maze di cerita Minotaur) tapi ternyata tidak bisa juga dipakai. Saya coba tes pakai untuk kamar no 24, eh ternyata sukses. Tapi begitu malangnya di dalam hanya ada kerangka ranjang saja. Sangat parah sekali keadaannya. Tapi ya sudahlah saya balik ke Ms L. Beliau bilang lebih baik pergi ke lab terlebih dahulu.

Di lab ada perkara lagi. Tidak ada tempat duduk untuk saya. Ya sudah numpang saya sebentar di cubicle nya Ms L. Saya masih belum diberi assignment oleh Mr R. Ya keluarkan laptop lah, kerjain tugas Model dan Simulasi saya. Sebenarnya tugas model dan simulasi saya gampang sekali. Tapi saya lagi mau main-main dengan teknologi terbaru Java yaitu JavaFX dan mau mencoba menyelesaikan permasalahannya dengan menggunakan salah satu metode Greedy yaitu Djikstra. Sebenarnya dengan aritmatika 20 menit selesainya algoritma dasar. Tapi daripada kosong tidak ada kerjaan. Bagusan otak-atik saja.

Di lab, para programmer menggunakan komputer dengan rata-rata monitor ada lebih dari 2 buah. Bahkan ada yang sampai 4 monitor. Di lab itu ada 3 divisi yang berbeda. Orang melayu sedikit saja. Ada orang Indonesia, India, Prancis, Chinese, Arab dan lain-lain. Bahasanya pun campur aduk di sana. Bahasa Inggris, Mandarin, Melayu, Indonesia, Hokkien dan tentunya India. Pusing saya lihat.

Selang beberapa saat, saya dapat meja saya. Tapi tiba-tiba ada orang India Arab yang datang dan mengklaim bahwa ini mejanya. Walah. Saya suruh dia tanyakan Ms L saja, karena kan Ms L yang persilakan saya duduk di sana. Tapi ternyata bahasa Inggris ku tidak konek dengan konek dengan bahasa Inggrisnya. Dia bicara cepat kali dan lari-lari intonasinya. Bingung gua. Dia sendiri bingung dengan bahasa Inggris saya. Akhirnya dia ke administrasi, ketemu dengan orang India yaitu Ms Le. Oleh Ms Le, katanya dia tidak boleh duduk di tempat nya lagi karena dia sudah pindah dari research ke mix mode. Tapi orang India Arab itu tetap bersikeras kalau surat keputusan belum keluar jadi dia masih berhak duduk di sana. Akhirnya datang satu orang Chinese yang menyarankan agar besok saya pindah ke tempat lain, kebetulan ada orang Arab lain yang mau meminjamkan tempatnya untuk saya. Yup. Mr Nice Guy. Katanya besok untuk satu minggu dia tidak datang. Ya sudah saya duduk di sana selama satu minggu sampai orang India Arab itu dah resmi keluar dari lab.

Lanjut ke masalah penginapan. Ms L menemukan satu tempat yang lumayan bagus yaitu di gedung sebelah Mr R dan dia sendiri. Harganya Rm 200 per bulan. Di apartemen itu ada 3 kamar. Satu kamar diisi oleh 3 orang cewek S1. Yang satunya kosong. Satu lagi ya wa loh.Oke lah, gua pindah kesana untuk beberapa saat. Nanti baru pikir lagi selanjutnya. Toh dari kampus wa dah acc. Tunggu apa lagi leh?

Oleh: hardyhuang | April 22, 2008

120 Days in Penang: Day One

Tak terasa telah lewat 1 bulan penantian untuk pergi ke Pulau Penang, akhirnya hari itu datang jua. Saya berangkat ke Penang dengan menggunakan pesawat Air Asia. Lirik-lirik bentar ke tiket pesawat, harga tiket mencapai Rp 490.000,-. “Mahal juga ternyata..,” begitu pikiran saya waktu itu. Memang harga flight sebenarnya cuma Rp. 159.999,-, tapi dibalik itu ada harga Fuel Subcharge senilai Rp. 180.000,- ditambah harga Administration Fee Rp 70.000,- lagi. Wah ini sih permainan marketing. Di bandara internasional polonia, ketika masuk saya dihampiri seseorang dengan baju agak lusuh. “Naik pesawat Air Asia?” Begitu tandas orang tak dikenal (OTK) ini yang kemudian saya baru tau kalu ini orang mencari nafkah untuk membantu orang mengurus masalah administrasi di sana. Ya karena ini penerbangan internasional saya yang pertama kalinya, saya relakan lah Rp 20.000,- untuk dia, walaupun setelah lewat beberapa saat saya lihat ternyata orang hanya bayar Rp 10.000,- aja. Walah terlambat tuh. Jadi rugi Rp10.000,- saya. Padahal Penang aja belum diinjak, dah ditipu orang Indonesia pula. Parah juga saya. Tapi sudahlah. Pengalaman.

Belum cukup saya ditipu dengan uang, saya mau diperas pula oleh OTK itu. Katanya saya tidak punya tiket pulang dan ditambah saya pertama kali terbang, pihak imigrasi tidak akan mengizinkan gua terbang. Sedikit tidak percaya saya. Saya bilang padanya, kamu urus dulu semuanya. Sewaktu dia sedang menimbang koper. Ternyata koperku lewat dari 15 Kg. Kalau tidak salah, 17.4 Kg. Oleh orangnya dihitung 18 Kg. Untuk setiap kelebihan 1 Kg, saya hendak di-charge seharga Rp 45.000,-. Walamak, 3 Kg berarti Rp 135.000,-. Gila! Penang belum injak dah mesti keluar gitu banyak uang! Saya angkat koper saya ke sekitar tempat duduk di polonia. Di sana saya keluarkan buku Introduction to Algorithm dan satu kotak minuman pati ayam kemudian ditimbang ulang. Jarum timbangan menunjukkan 14.7 Kg. Selamat lah saya.Barang yang kukeluarkan kumasukkan ke dalam plastik yang kemudian kujinjing ke tempat Imigrasi. Di sana, hati agak deg-deg an. Tapi nyata, ga ada apa-apanya toh. Orang imigrasi cuma nanya ke penang ngapain yang dijawab oleh saya “Tugas Belajar”. Cap. Lewat. Sialan juga tuh OTK. Nakutin orang.

Ketika di raung tunggu, Saya sms dulu kepada dua orang yaitu Mr P dan Mr S minta doakan gua. Pesawat Air Asia yang mengklaim selalu on time memang nyatanya datang on time. Tapi ternyata setelah duduk di pesawat, saya tunggu-tunggu setelah 35 menit. Kok tidak terbang? Suara pramugari yang menggoda akhirnya mengumumkan lewat pengeras suara. “Pesawat akan mengisi bahan bakar selama 15 menit. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya,” begitu sahut pramugari tersebut. Gugur deh predikat on timenya di benak saya.

Sampai di Penang jam 6 an. Tunggu bagasi. Keluar ketemu Mr R ternyata sudah jam 6 lewat 20 menit. Ketika Mr R di mobil, beliau telepon Mr P. Pertama-tama telepon dia pura-pura bilang saya tidak ada di airport. Suara Mr P yang terkejut kedengaran di HP Mr R. Suer. Ini bukan ide saya. Saya bahkan tidak ketawa, cuma menaikkan ujung bibir sedikit waktu itu. Untungnya Mr R, cuma bercanda sebentar saja. Kalau tidak bisa heboh Mikroskil. Ntar saya dianggap tidak terbang pula ke Penang.

Oleh Mr R, saya ditawari untuk menginap di rumahnya bareng semalam. Yah, karena dia yang bawa mobil. Tidak etis saya menolak. Oke lah. Berangkatlah kita berdua ke rumahnya (apartemennya). Di sana saya ketemu dengan istri dan anak kedua dari Mr R. Kedua-duanya sangat ramah. Saya diberikan ruangan untuk menginap semalam (saya tebak sih ruangan anak keduanya karena ada fotonya). Selang beberapa saat, anak pertamanya pulang dengan Mr F yang merupakan mahasiswa Phd yang juga merupakan orang Indonesia. Kenalan sebentar dengannya. Dari wajahnya, biasa-biasa saja (saya baru tahu di hari kedua kalau dia programmer Java yang paling tangguh di lab dan telah menerbitkan kurang lebih 16 paper Internasional). Setelah perkenalan selesai. Pak Rahmat berbaik hati membawa saya jalan-jalan untuk membeli kartu SIM Digi. Susah kali bicaranya dengan tukang jualnya. Dia bahasa hokkien campur melayu campur Inggris pula. Bingung gua. Tapi setelah 15 menit bicara panjang lebar tentang cara ngisi pulsa di Penang baru kelar jual belinya hehe…

Sepulangnya ke apartemen Mr R. Saya langsung tulis jurnal sebentar, susun barang dan beberapa aktifitas normal lainnya baru tidur. Besok apa lagi yang akan kutemui.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori