Oleh: hardyhuang | Oktober 18, 2009

Tim Micro Skill Menuju ICPC 2009

Pada tanggal 19 – 22 Oktober 2009, STMIK Mikroskil untuk pertama kalinya akan mengirim mahasiswanya mengikuti kompetisi algoritma tingkat internasional yaitu ICPC 2009 Asia Jakarta Regional Contest.

ACM International Collegiate Programming Contest (ICPC), merupakan kompetisi algoritma yang berada langsung di bawah supervisi Association for Computing Machinery (ACM). Kompetisi bergengsi ini diikuti oleh puluhan ribu mahasiswa dari berbagai belahan dunia yang berasal dari hampir 2000 universitas dari 80 negara yang terbentang di 6 benua. Akhir kata, ICPC adalah kontes pemrograman yang paling prestisius, dan paling tua (sejak 1977) di dunia.

Tim Micro Skill yang terdiri dari Yudi Umar (09/Sore), Hendry Suwanda (06/Sore), Habri Loy (06/Pagi) akan menjadi representasi STMIK Mikroskil di ICPC 2009 kali ini setelah mereka berhasil mendapat peringkat ke-3 di Indonesia National Contest pada tanggal 4 Oktober 2009 yang diikuti oleh 77 tim dari berbagai daerah Indonesia.

Dengan peringkat ke-3 di INC, tim Micro Skill berhak mendapatkan uang saku sebesar 1 jt rupiah dari Binus ditambah gratis pendaftaran ICPC 2009 sebesar $110. Pihak Mikroskil sendiri membiayai semua pengeluaran akomodasi serta transportasi tim Micro Skill selama 4 hari 3 malam di Jakarta sebagai wujud dukungan Mikroskil terhadap mahasiswa berprestasi.

Dalam Asia Jakarta Regional Contest, tim Micro Skill akan bertemu dengan universitas papan atas Indonesia seperti Universitas Binus, UI, ITB, ITS dan lain-lain serta kompetitor dari luar negeri seperti dari Singapore yaitu NTU, dari China yaitu National Tsing Hua University dan Sun Yat Sen University, dari Taiwan yaitu National Taiwan University dan lain-lain. Total tim yang mengikuti Asia Jakarta Regional Contest sebanyak 67 tim.

Semoga tim Micro Skill mendapat hasil terbaik dan ajang ini bisa menjadi pemicu semangat kompetisi dari mahasiswa-mahasiswa lain untuk ikut bersaing di ICPC 2010 tahun depan.

Oleh: hardyhuang | September 20, 2009

Menang di debat bukan segalanya

Konflik tak terhindarkan di hidup ini. Jika anda mau menghindari konflik anda harus mengisolasikan diri dari peradaban manusia, itu pun saya tidak akan jamin kalau anda bisa menghindari yang namanya konflik. Di film Castaway, Tom Hanks yang terdampar di pulau tak berpenghuni pun bisa konflik dengan sebuah bola voli. Jika melibatkan dua pihak, hampir bisa dipastikan terjadi debat di dalam sebuah konflik.

Ketika saya masih duduk di bangku sekolahan, saya menganggap debat itu sebagai sebuah perjuangan untuk mencapai kemenangan. Apapun caranya, apapun kondisinya, saya harus memenangkan debat itu. Saya membentuk klub debat ketika saya duduk di bangku perkuliahan dan benar-benar mengfokuskan diri untuk memenangkan debat itu. Kadang-kadang sangking tak inginnya kalah dalam sebuah debat, saya sering silap dan malah melukai hati lawan debat saya. Saya mungkin menang dalam perdebatan, tapi saya telah gagal menyelesaikan konflik dan membentuk konflik baru dengan lawan debat saya untuk jangka panjang.

Dale Carnegie pernah mengatakan bahwa dalam debat tidak ada pemenangnya. Menang jadi arang, kalah jadi abu. Kadang-kadang dalam perdebatan kita begitu ingin menang sehingga kita lupa akan tujuan kita. Seharusnya kita menyelesaikan konflik, memperbaiki masalah, dan meluruskan permasalahan dengan orang yang salah paham dengan kita. Alih-alih menyelesaikan konflik, kita malah membuat konflik baru yang tak terdeteksi di hati orang itu. Apalagi jika kita dengan sengaja menyerang ke personal seseorang, kita mungkin merasa bangga ketika lawan mundur tapi orang yang melihat dari samping akan meremehkan bahkan menertawai kita.

Alangkah konyolnya, yang awalnya ingin menunjukkan kita benar, malah kita menjadi bahan olokan di belakang kita. Ada seorang kolega saya yang terobsesi ingin memenangkan semua perdebatan walaupun sudah jelas kalau dia yang salah. Karena dia adalah seseorang yang memiliki artikulasi yang bagus, dan pintar maka dia hampir selalu menaklukkan lawan debatnya dalam setiap hal. Tetapi saya tau kalau itu bukan kemenangan sebenarnya, itu kemenangan semu. Karena setiap lawan debat dia yang kalah, bahkan orang yang menonton (secara praktis hampir semua orang) membuat dia menjadi bahan lawakan dan menganggap dia aneh serta keras kepala. Dan pada akhirnya, tetap tak ada yang setuju dengan pandangan dia. Orang cuma terlalu malas untuk menjawabnya saja.

Jika kita tau kalau menang di debat tak membuat posisi kita lebih baik. Kenapa kita tidak berpikiran dalam sudut pandang yang lain? Saya akui kita memang susah mendapatkan win-win solution, tapi setidaknya kita bisa mengakhiri debat tanpa harus menyakiti lawan bicara, bukankah itu lebih bagus? Be smart.

Oleh: hardyhuang | September 12, 2009

Dunia Panggung Sandiwara

Apa beda orang dewasa dan anak-anak?

Tidak banyak. Orang dewasa hanya lebih pandai bersandiwara dibandingkan anak-anak.

Mereka yang tidak pandai bersandiwara akan dicap aneh oleh masyarakat. Sebenarnya, mereka yang aneh hanyalah bertindak dan berkata apa yang ada dibenaknya; mengeluarkan isi hatinya. Apakah salah jika kita tidak suka maka kita katakan tidak suka? Menurut aturan masyarakat, itu salah. Jika kita tidak suka, maka kita harus katakan suka agar tidak menyinggung perasaan orang, dan kalau memang harus jujur, kita harus katakan sehalus-halus mungkin sembari menyembunyikan ketidaksukaan kita. Itu aturan yang ada. Itu namanya “etika”.

Jika anda mau tau kue yang anda masak itu enak atau tidak. Tanyalah ke anak-anak. Mereka jujur apa adanya. Cuma sayangnya, orang tua mereka mungkin tidak akan begitu senang mendengar kata-kata anak-anak itu. Mereka ingin agar anak-anak itu menyembunyikan perasaan mereka kelak kalau ditanyakan lagi. Mereka ingin anak-anak itu bersandiwara.

Dilihat dari salah satu sudut pandang, bersandiwara itu bagus. Sandiwara membuat dunia kita lebih beradab. Cuma saja, beberapa orang terlalu menghayati konsep bersandiwara ini. Bagi mereka, semua adalah sandiwara. Jangan coba-coba menanyakan apakah kue anda enak atau tidak pada mereka. Gosong pun mereka akan bilang enak. Orang-orang ini adalah bangsa-bangsa penjilat di kantor anda.

Bagaimana jika kita menolak bersandiwara?

Di kasus yang baik, anda mungkin hanya dibilang kasar. Kasus terburuk, orang bilang anda tak beradab atau mungkin gila.

Sangking banyaknya orang yang bersandiwara, muncul cabang ilmu untuk hal itu. Mereka menamakannya soft skill, people skill, dan lain-lain. Ratusan buku terbit untuk mengajari kita bersandiwara. Lambat laun masyarakat kita semakin tenggelam di dalamnya. Panggung sandiwara semakin meriah. Sangking meriahnya, saya tak bisa lagi membedakan apakah seseorang sedang bersandiwara kepada saya atau dia benar-benar jujur apa adanya.

Dunia ini memang sudah kacau.Kata pastor saya dulu, kalau semua orang telanjang, maka orang yang pakai baju lah yang merupakan orang gila. Sekarang, semua orang bertopeng. Mereka yang tidak bertopeng, adalah mereka yang aneh. Mau tak mau, saya juga terpaksa mengenakan sebuah topeng di wajah saya. Dan saya sarankan anda juga mengenakannya.

Oleh: hardyhuang | Juli 30, 2009

Masih Banyak Ruang di Indonesia

Saya cukup terkejut melihat data di website wikipedia dimana di dalamnya menyatakan bahwa Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia ternyata “hanya” peringkat ke-15 di dunia dalam konteks pengguna Internet.

Melihat fakta tersebut, saya menyimpulkan beberapa hal:

  1. Pasar bisnis online di Indonesia masih memiliki banyak ruang untuk bertumbuh seandainya persentasi pengguna Internet di Indonesia meningkat.
  2. Peran pemerintah dalam menggalakkan Internet masuk desa harus semakin di-”galak”kan, jika tidak potensi besar Indonesia dalam dunia bisnis online akan sia-sia.
Oleh: hardyhuang | Desember 16, 2008

Seandainya Semua Penduduk Indonesia Di-Rank!

Dulu sewaktu saya masih berseragam putih-merah, putih-biru dan kemudian putih-abu, istilah ranking atau peringkat sudah menjadi istilah yang sangat umum pada saat itu. Pada hari itu, saya dan kawan-kawan saya dinilai secara langsung oleh guru dan orang tua kita masing-masing melalui peringkat kita masing-masing di kelas. Di sekolah saya dulu malahan ada yang namanya peringkat umum, yaitu urutan prestasi saya yang diukur berdasarkan semua siswa yang seangkatan di sekolah tersebut.

Setelah menduduki bangku perkuliahan, yang namanya pengukuran berdasarkan peringkat sudah mulai samar-samar. Walaupun pada hari saya diwisuda, tempat duduk kami sebagai calon wisudawan itu diukur berdasarkan peringkat Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Yang paling tinggi IPK nya duduk paling depan, sedangkan yang paling rendah duduk di deretan bangku paling belakang.

Di saat-saat seperti itulah, kita mengukur kemampuan kita terhadap yang lain. Persoalan jujur atau tidak dalam pencapaian, itu pembahasan tersendiri. Tapi misalkan jika seandainya semua orang itu jujur dalam pencapaiannya. Bagaimana perasaan kita jika kita duduk terdepan? Atau terbelakang? Bangga? Malu? Tertantang untuk lebih maju kelak? Campur aduk pastinya.

Bagaimana jika sekarang juga semua penduduk Indonesia diukur berdasarkan ukuran tertentu yang diakui fair untuk setiap profesi, dikategorikan berdasarkan range umur tertentu dan dipublikasikan peringkat setiap orang secara publik dan berkala tiap tahun? Di posisi manakah kita berada dalam 230 juta penduduk Indonesia? Apakah kita termasuk yang terbaik 20% untuk range umur 20 – 25 tahun? Apakah dengan mengetahui posisi kita bisa menimbulkan sifat ingin bersaing yang semakin kental untuk menjadi lebih baik?

Permasalahan ukuran yang fair untuk setiap profesi juga mempunyai kendala sendiri. Apakah seseorang yang mempunyai uang lebih baik berarti lebih tinggi peringkatnya terhadap yang lebih miskin? Apakah yang kesehatannya lebih baik juga lebih tinggi peringkatnya disbanding yang sering check-up ke Singapore? Jabatan? Catatan kriminal? Kemudian bagaimana mengukur kebahagiaan?

Anggaplah suatu saat ditemukan cara mengukur seseorang. Apakah anda mau menerimanya? Penasaran terhadap kemampuan diri sendiri atau takut menghadapi kenyataan? Tapi yang pasti, jangan bicarakan kesamaan hak azasi atau diskriminasi di sini.

Bayangkan apa yang terjadi ketika seseorang berperingkat 1 ketemu muka dengan seseorang yang berperingkat 230 juta?

Oleh: hardyhuang | Desember 12, 2008

About Trust

I concede that I am neither a saint nor an incorrigible liar, I am between them. But then, I do have a strong belief that when a relationship is built upon a complete lie, that relationship is destined for a failure. Trust is the very foundation of relationship, without it there is no foundation. When trust is betrayed, it is time for a complete rethink of the relationship.

A lot of people, including myself when I was a teenager back then, do not know the importance of a trust. But when their trust have been betrayed by other people, only then did they learned to value a trust. It is sort of like karma. When we betrayed someone trust, someday, our trust will also be betrayed by other people.

Statements above arouse a new question in my mind. Is it necessary for us to be betrayed in order to value trust? I believe, most of you, including myself, will quickly answers “no” to that question. But sadly, it happens all the time in reality. People with good integrity become rarer and rarer as time goes.

The same thing happened to a country with a high corruption level where politicians, bureaucrats and businessmen play with people money, people trust.

I always keep in my mind that if I betrays someone trust, someday, sometimes in the future, other will betray my trust. I have tasted the bitter of betrayal, I know the pain of being betrayed.

For people who in my past have been betrayed, if you read my post. Please know that I was a naïve back then. I was wrong. Forgive me.

For people who have betrayed me. I forgive you. But remember, I am not a Buddha.

Oleh: hardyhuang | November 20, 2008

Sepuluh Penyebab Kejatuhan Amerika Dalam Finansial

Saya menemukan sebuah website yang sangat bagus dalam merangkum kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh pelaku ekonomi Amerika. Sangat bagus untuk belajar mengenai ekonomi dan yang terpenting untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.

Websitenya bisa diakses di sini

Oleh: hardyhuang | November 17, 2008

Kartu Kredit: Penyelamat atau Penenggelam?

Hari minggu biasanya saya jalan-jalan dengan teman saya ke Sun Plaza atau Medan Fair. Saya sebenarnya bukan pecinta jalan-jalan, cuma kadang-kadang saya merasa saya ini sebenarnya kurang sosialisasi, terlalu gaptek kali, itu sebabnya kalau ada tawaran jalan-jalan dari teman biasanya saya terima dengan senang hati. Kata orang, keberuntungan itu sebenarnya bukan bawaan lahir tapi milik orang yang melakukan banyak kegiatan. Saya setuju pernyataan itu. Makin banyak kegiatan kita maka makin banyak peluang kita.

Rencananya hari ini saya dan teman-teman saya akan melihat film terbaru James Bond di Sun Plaza. Kegiatan tersebut sebenarnya sudah saya rencanakan jauh-jauh hari dengan teman saya. Cuma sayang, karena kesalahan teknis maka beberapa musibah terjadi. Seperti ditolaknya kartu kredit BCA milik teman saya sehingga tawaran buy one get one free jadi batal. Harga tiket melambung menjadi 30 ribu per orang. Tapi tak apalah itu. Dah terlanjur.

Sebelum menonton, kami pergi makan terlebih dahulu di Dome Sun Plaza. Jujur saja, saya ini orangnya agak kritis dalam soal memilih makanan. Selain dari rasa, masalah harga juga menjadi pertimbangan saya. Tapi dengan hadirnya kartu kredit, kita tidak lagi perlu memusingkan price tag dari makanan yang di menu. Tinggal kasih kartu dan tanda tangan, semua selesai. Tak ada hard feeling mengeluarkan segepok uang dari dompet.

Kebetulan beberapa minggu belakangan, teman saya berburu beberapa resto dan café yang memberikan diskon bagi pemilik kartu kredit bank Mega dan HSBC. Tawarannya menggiurkan. Buy one get one free, 40%, 55% dan sebagainya. Hitung-hitung wisata kuliner di dalam kota.

Pada awalnya, saya pikir di Dome juga ada diskon untuk bill-nya bagi pemegang HSBC. Sayang sekali, diskon 15% cuma berlaku untuk pemegang American Express. Karena tak ada diskon, dalam pikiranku, mungkin temanku agak irit makannya. Rupanya dalam 20 menit melayang 200 ribu untuk 3 orang juga. Nasi goreng seharga 54 ribu dan sup asparagus yang sekitar 40-an ribu menjadi santapan siang hari itu.

Temanku berkata dengan santai, “Tagihannya untuk bulan depan kok. Dah lewat tanggal untuk bulan ini.”

Wah, kok malah jadi komsumtif dengan kartu kredit. Jadi beda dengan niat awal buat kartu kredit yang sebenarnya untuk mengejar potongan harga. Saya jadi berpikir dua kali kalau misalnya ditawari buat kartu kredit walaupun dengan iming-iming bebas iuran tahunan.

Memang sih kalau punya kartu itu, kita bisa menikmati resto-resto papan atas dan makanan-makanan yang biasanya di luar dari dompet staf menengah. Tapi setelah ditilik-tilik pengeluaran tiap bulan, angka-angka yang ada malah menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan ketika kita tidak memiliki kartu kredit. Jadi merugikan daripada menguntungkan.

Sekarang, masihkan anda berpikir kartu kredit itu menguntungkan?

Oleh: hardyhuang | November 15, 2008

Hidup Adalah Maraton

Hari ini adalah hari di mana saya diwisuda dari STMIK-Mikroskil. Bagi saya secara personal, kehidupan mahasiswa saya sudah berakhir ketika saya menyelesaikan sidang akhir skripsi saya, prosesi wisuda hanyalah sebuah formalitas di mata saya dan tidak banyak attensi yang saya berikan pada hari itu. Walaupun begitu, ada satu acara yang lumayan menarik untuk disimak yaitu acara motivasi oleh Mr James Gwee. Ini yang kesekian harinya saya mendengar Mr James berbicara di depan panggung. Kali ini tema yang diusung oleh Mr James adalah hidup setelah kuliah.

Ada beberapa poin yang cukup menarik perhatian saya ketika dia berbicara, walaupun ada juga beberapa poin yang saya kurang setuju dari Mr James, yaitu: nilai keunggulan kompetitif di masyarakat dari ijasah kita hanya berlaku 18 bulan setelah wisuda. 18 bulan terlalu lama menurut saya.

Menurut saya di dunia ilmu komputer, nilai keunggulan kompetitif kita sebagai seorang S.Kom paling banter bertahan 3 bulan setelah kita lulus apabila kita tidak terus memperbarui ilmu kita. Itu kalau kita beruntung. Mungkin saja ilmu kita using jauh sebelum kita wisuda. Tapi saya tidak akan membahas soal ini lebih lanjut. Saya serahkan masalah itu ke pengalaman masing-masing.

Satu hal yang sangat saya setuju dari Mr James yaitu pernyataannya mengenai hidup adalah sebuah perlombaan maraton. Berbeda dengan perlombaan sprint, di maraton kita tidak bisa melihat garis finish ketika kita start dan yang paling membedakan maraton dan sprint adalah di sprint kita tidak usah mengatur strategi lagi. Yang penting kerahkan kekuatan kita dengan sepenuhnya dan berlari lurus ke depan. Soal kita menang atau tidak, itu nanti setelah kita mencapai garis finish. Yang penting lari dengan sekencang-kencangnya. Itulah sprint.

Maraton berbeda. Kita harus mengatur nafas, tenaga dan konsentrasi yang tinggi. Jangan terlalu cepat menghabiskan tenaga dan jangan pula terlalu santai. Garis finish masih sangat panjang. Terlalu riskan untuk mengeluarkan semua tenaga kita di awal perlombaan, karena kalau tidak bisa-bisa kita jatuh sebelum mencapai garis finish.

Nah. Jika dilihat-lihat maka saya bisa bilang bahwa hidup itu sebenarnya adalah perlombaan maraton yang sangat panjang. Diperlukan strategi dan stamina. Apa yang saya capai, ijasah strata 1, hanyalah salah satu pos yang ada di jalur maraton. Ini bukan akhir dan bukan juga awal. Saya masih berlari.

Rahasia memenangkan perlombaan maraton adalah penyusunan strategi yang memadai. Saya bisa bilang hal yang sama juga untuk hidup kita. Jika terlalu dipaksa, kita bisa silap dan jatuh. Jika terlalu santai, kita tertinggal. Intinya adalah pengaturan ritme hidup. Ritme ini berbeda untuk setiap orang dan tergantung dengan situasi dan kondisi hidup masing-masing.

Mungkin jika ada perbedaan antara hidup dan maraton sesungguhnya maka itu adalah: Sesama pelari menempuh lintasan yang berbeda. Di hidup tidak ada yang namanya lintasan tetap untuk setiap pelari. Kita bebas menempuh lintasan masing-masing, tapi garis finish tetap hanya satu yaitu: Membuat hidup ini berarti.

Hal yang paling menyedihkan mungkin adalah pelari yang tidak menyadari bahwa ia sedang berlari. Pelari yang melihat garis finish semu dan mulai menghentikan langkahnya akan benar-benar ditenggelamkan oleh ritme kehidupan. Pada saat dia sadar, dia sudah tertinggal jauh dari yang lain. Contoh kasusnya adalah pemuda yang berfoya-foya dan bersenang-senang pada masa muda. Saat mereka tidak berusaha maka itulah saat mereka berhenti berlari. Pada saat mereka sadar, mungkin umur mereka telah 30-an dan belum berkarya apa-apa, jauh tertinggal dari yang lain.

Oleh: hardyhuang | November 13, 2008

Kaizen

Kaizen merupakan bahasa Jepang yang artinya perbaikan berkesinambungan. Kaizen terdiri dari dua buah huruf yaitu ‘kai’ yang berarti berubah dan ‘zen’ yang berarti baik. Gabungan dua huruf tersebut memberi makna perubahan yang menuju ke sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Kata kaizen pertama saya dapat dari buku Toyota Way, buku yang bagus, karya Jeffrey K. Liker.

Perbaikan berkesinambungan, dua kata yang membuat saya berpikir keras mengenai apakah saya sendiri selama ini sudah melakukan perbaikan atau hanya jalan di tempat saja. Dalam perusahaan Toyota, menurut Jeffrey, orang Jepang mencoba memperbaiki peforma mereka setiap hari walaupun itu hanyalah penambahan efisiensi beberapa detik saja. Berapa detik yang telah saya buang dalam masa muda saya? Hati agak gundah ketika saya bertanya diri saya sendiri pertanyaan tersebut. Tapi inti dari kaizen bukanlah berapa yang telah kita sia-siakan tetapi berapa yang bisa kita perbaiki pada hari esok.

Memulai hari esok dengan skipping 20x mungkin dianggap sepele oleh banyak orang. Tapi itu sebenarnya adalah perbaikan kesehatan yang paling bagus untuk jantung kita. Sedikit memang tapi bermanfaat kedepannya. Menaruh barang di tempatnya setiap kali selesai menggunakan merupakan perbaikan effisiensi dan rasa tanggung jawab yang ada pada diri kita. Kaizen tidak berarti harus perombakan total dalam hidup. Sedikit-sedikit juga jadi asal konsisten. Itulah inti kaizen.

Saya ada perkenalkan kata kaizen pada teman-teman sekantor saya. Rata-rata memberi anggukkan positif pada saat mendengarnya. Saya bahagia mereka bisa menerimanya secara positif, tapi akan lebih bahagia lagi kalau itu diterapkan, yang mana saya percaya mereka bisa, dalam kehidupan sehari-hari mereka. Saya juga akan berusaha untuk menerapkan inti kaizen ini untuk hari-hari esok.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori